Banda Aceh, Tempat Kita Belajar dan Mengajarkan tentang Usaha Pengurangan Risiko Bencana Tsunami

Ketika supervisor dan dua orang dosen saya dari Jerman mengabarkan akan mengunjungi Banda Aceh selama dua hari, maka saya segera menyusun rencana kegiatan mereka selama di Banda Aceh. Penelitian saya yang dibimbingnya tentang tsunami resilience dan universitas tempat saya belajar memang mengkhususkan kajian tentang lingkungan, kerentanan, bencana, dan keselamatan manusia. Saya pikir,  ini adalah kesempatan yang baik untuk memperkenalkan wisata tsunami yang bisa memberikan pembelajaran sekaligus kenangan tentang kota Banda Aceh. Mereka pastinya sudah membaca banyak tentang tsunami dan sudah mengunjungi Jepang yang juga memiliki pengalaman lebih baik dalam mengelola situs wisata tsunami. Namun, saya yakin, Banda Aceh memiliki “sesuatu” yang berbeda, bukan hanya tentang situs peninggalan tsunami tetapi juga pengalaman dan usaha masyarakatnya bangkit kembali setelah bencana.

Hal selanjutnya yang saya lakukan adalah berdiskusi dengan Bang Faisal yang akan membantu saya menjadi ”second guide” selama trio wisatawan ini berada di Banda Aceh tentang objek-objek yang akan kami kunjungi, rumah makan yang akan kami tuju agar mereka bisa merasakan kuliner Aceh, dan rute perjalanan agar mereka bisa melihat hasil rekonstruksi di Banda Aceh pasca tsunami. Selain acara utama, pertemuan dengan Bappeda Kota Banda Aceh dan workshop dengan pihak Tsunami Disaster Mitigation Research Centre (TDMRC) di Universitas Syiah Kuala.

Ternyata pesawat mereka terlambat dua jam tiba di Banda Aceh, sehingga rencana awal untuk mengunjungi Museum Tsunami diganti dengan melihat daerah pesisir yang terkena dampak Tsunami. Kami memutuskan untuk mengunjungi pantai Alue Naga karena tidak terlalu jauh dari pusat kota Banda Aceh. Sore itu, masyarakat sekitar banyak yang sedang mandi di laut, duduk di atas batu-batu besar pemecah gelombang, atau seperti kami yang berjalan santai menyusuri pantai. Tak jauh dari pantai, di komplek makam ulama Aceh Syiah Kuala, suasana riuh rendah, mempersiapkan acara zikir. Sejauh mata memandang banyak sekali pemandangan menarik untuk dinikmati. Setelah itu kami berjalan menuju bekas kampung yang telah habis dibawa tsunami. Kami mengikuti jalan setapak dan kembali bertemu pantai. Sesekali tampak bekas tapak rumah dan sumur yang ditinggalkan. Kami juga sempat berbincang dengan masyarakat lokal yang dulunya tinggal dan kemudian direlokasi setelah tsunami. Ingatan mereka tentang tsunami masih lekat, dan perbincangan sore itu ditingkahi oleh mentari yang perlahan terbenam berwarna jingga bersatu dengan riak pantai.

Esok harinya, selesai pertemuan dengan stakeholder kebencanaan di Bappeda, kami mengunjungi Tsunami Escape Building di daerah Ulee Lheue. Escape building adalah bangunan untuk masyarakat menyelamatkan diri ketika terjadi tsunami.Kami mengunjungi tiga escape building dan bertemu dengan masyarakat yang tinggal di sekitar gedung. Kami kembali berbincang dengan mereka, berbagi pengalaman dan saling belajar tentang usaha masyarakat mengurangi risiko bencana. 

salah satu escape building di Ulee Lheue, foto ini diambil ketika berada di salah satu escape building yang berada di gampong berbeda


Dari atas escape building, Banda Aceh terlihat cantik sekali. Sore itu langit biru, dan dari satu escape building dapat terlihat escape building yang lainnya. Supervisor saya sangat terkesan dengan kemurahan hati warga Ulee Lhue mewakafkan tanahnya, membagun escape building ini untuk kemaslahatan masyarakat.
Beberapa rumah  yang tidak direnovasi lagi setelah diterjang tsunami terlihat dari atas, menceritakan banyak tanpa harus bersuara. 

salah satu rumah masyarakat yang tidak direnovasi lagi untuk menjadi pengingat tentang tsunami 2004

Pohon-pohon mangrove mulai tinggi, ditanam sejak lama di sekitar escape building  memberikan pemandangan yang indah. Tumbuh bersusun rapi, mengingatkan bahwa lingkungan pesisir harus dijaga dan bukan dijadikan tempat pembuangan sampah.

Setelah dari escape building kami mengunjungi tempat pembuatan kapal di Ulee lheue. Kali ini kami melihat bagaimana kapal dibuat secara tradisional oleh pengrajin. Pengalaman ini sungguh unik, meski saya warga Banda Aceh, tapi baru kali itu saya melihat langsung tempat pembuatan kapal. Sungguh sebuah pengalaman berkesan bisa duduk bersama nelayan dan berbicara tentang bagaimana mereka bangkit kembali setelah terpuruk oleh mega bencana hampir sepuluh tahun yang lalu sambil memandang pantai Ulee Lheue.

Tempat pembuatan kapal tradisional yang kami kunjungi di Ulee Lheue


Keesokan harinya, setelah selesai berpartisipasi di workshop TDMRC, kami mengunjungi Museum Tsunami. Siang itu, kami ditemani oleh guide museum yang menjelaskan dalam bahasa Inggris. Saya pikir, usaha untuk memiliki guide yang bisa berbahasa Inggris patut diapresiasi. Trio wisatawan Jerman ini sangat terkesan dengan Museum Tsunami dan mencoba berbagai alat peraga yang ditawarkan oleh Museum dengan antusiasme yang luar biasa.  

Poster besar yang dipasang saat peringatan 9 tahun tsunami di taman ratu safiatuddin Banda Aceh


Selesai dari Museum, kami mengantarkan mereka ke Bandara Sultan Iskandar Muda untuk kembali ke Jakarta. Supervisor saya sangat terkesan dengan Banda Aceh. Beliau suka dengan masakan khas Aceh yang menurutnya enak sekali. Ketika saya sudah kembali ke Jerman, beberapa teman di kampus bertanya tentang Banda Aceh, karena mereka ingin berkunjung. Rupanya, supervisor saya  berbagi pengalamannya tentang Banda Aceh yang sangat bersahaja. Padahal kunjungan beliau hanya dua hari. Waktu yang sangat terbatas, tidak banyak yang bisa saya tunjukkan. Bahkan, keinginan mereka yang sangat besar untuk merasakan suasana kedai kopi di Banda Aceh tidak bisa terwujud. Alhasil, mereka hanya bisa menikmati pemandangan jajaran kedai kopi dari balik jendela mobil dan mencicipi kopi gayo yang saya pesan dari warung termahsyur di seputaran Lampineung ketika pertemuan.

Saya berpikir, sebegitu menarik dan berkesannya sebuah pengalaman dua hari berwisata di Banda Aceh? Apa sebenarnya daya tarik wisata Banda Aceh? Padahal selama dua hari itu, mereka lebih banyak menikmati Banda Aceh dari balik kaca mobil dan dalam ruang diskusi. Mungkin ini juga kerena mereka berkesempatan bertemu dan berbicara dengan masyarakat Aceh yang telah belajar banyak dari peristiwa bencana tsunami di tahun 2004.

Satu lagi catatan saya, sepanjang perjalanan, mereka banyak bertanya tentang hal-hal yang sederhana tapi cukup sulit untuk dijawab. Pertanyaan tentang keamanan kota Banda Aceh, syariat Islam, pemerintahan, kerukunan beragama dan sejarah konflik Aceh ternyata juga memberikan kontribusi dalam menikmati geliat wisata Banda Aceh. Untuk semua jawaban yang bijak dan cerdas, saya berterima kasih sangat pada bang Faisal yang ternyata sangat mengenal Aceh dan mampu mengemas jawaban-jawabannya menjadi sangat masuk akal. Sehingga memberikan gambaran yang benar dan citra kota Banda Aceh yang sesungguhnya.

Jadi kesimpulan saya, kita seharusnya sangat mengenal Aceh dan memiliki wawasan tentang sejarah, adat, agama dan kemasyarakatan jika kita ingin menjadi tuan rumah yang baik. Kita seharusnya menjadi duta wisata yang bisa memperkenalkan bukan sekedar objek wisata tetapi cerita dibalik keseharian yang ternyata lebih berharga dan tak ternilai. Untuk bisa memajukan potensi wisata tsunami di Banda Aceh, masyarakat harus mulai belajar tentang isu dan mendukung program pengurangan risiko bencana, merawat fasilitas mitigasi bencana dan menjaga semua aset wisata tsunami yang telah ada. Bukan sekedar menjadi event organizer, menjual kemasan dan cerita sedih tentang apa yang terjadi dan air mata korban tsunami. Menurut saya, justru yang menjadi daya tarik terbesar, adalah usaha kita untuk bangkit dan membangun resilience yang ternyata dikagumi oleh masyarakat di seluruh dunia. 

Ulee Lheue, di sini kita bisa belajar tentang pengurangan risiko bencana dari masyarakatnya


Sekali lagi, selamat datang di Kota Banda Aceh, satu-satunya kota, tempat kita belajar dan mengajarkan tentang usaha pengurangan risiko bencana tsunami.  

  

Popular posts from this blog

dan jika bersamamu, tak ada yang tak mungkin

Week 1: Sharing about country, admission procedure, and how to get LoA